Sabtu, 19 November 2011

MAHAKARYA GERABAH KASONGAN


-created by Debbi Kartikasari-


Siapa yang tak kenal dengan Yogyakarta.Daerah Istimewa yang terletak di pulau Jawa ini, memberikan banyak kenangan yang ingin saya ceritakan selama saya berada di sana. Selain cagar alam dan adat kebudayaan yang sangat mempesona, berbagai aplikasi seni yang tercipta di Yogyakarta pun sungguh memberikan kegaguman tersendiri bagi saya. Dan kali ini, saya sangat tertarik dengan salah satu kerajinan tangan hasil karya masyarakat Yogyakarta yaitu Gerabah Kasongan. Banyak cerita yang saya dapat saat menelusuri Gerabah Kasongan di Bantul, Yogyakarta.
Perjalanan kali ini saya mulai dengan berkendara menuju selatan Yogyakarta. Sekitar 20 menit  waktu yang ditempuh dari kota Yogyakarta untuk saya tiba di desa Kasongan. Desa Kasongan terletak di Padukuhan Kajen, Bangunjiwo, kecamatan Kasihan,kabupaten Bantul, Yogyakarta. Dari desa inilah kerajinan gerabah dihasilkan. Kerajinan gerabah merupakan kerajinan yang berbahan dasar dari tanah liat atau biasa disebut dengan tanah lempung. Dan Desa Kasongan pun merupakan Sentra Industri Kerajinan Gerabah. Dari begitu banyaknya galeri gerabah yang hampir memenuhi desa Kasongan ini, Mata saya terhenti di salah satu galeri yang tergabung dalam koperasi usaha bersama. Di galeri ini saya bertemu dengan mas Sigit salah satu pengrajin dan humas dari galeri gerabah Kasongan ini. Sambil melihat-lihat berbagai bentuk gerabah yang terpajang di galeri, saya pun mendapat cerita tentang historisitas Gerabah Kasongan.


Historisitas Gerabah Kasongan
Kerajinan Gerabah Kasongan ternyata sudah dimulai sejak terjadi perang Diponegoro. Masyarakat di desa Kasongan ini mulai melakukan kegiatan membuat barang-barang gerabah  yang berfungsi sebagai peralatan rumah tangga seperti kuwali,  kendhil, anglo dan cobek. Dahulunya gerabah yang dibuat masih dengan bentuk sederhana dan dalam perkembangannya kini gerabah yang dihasilkan menjadi gerabah yang memiliki nilai seni dan kualitas ekspor. Oleh karena itu, desa Kasongan ini disebut dengan sentra kerajinan gerabah. Dan ada beberapa seniman antara lain Larasati Soeliantoro Soelaiman, Sapto Hoedoyo, Widayat, Narno, SP Gutami dan para pengajar Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia, yang ternyata dahulunya merupakan penggerak para pengrajin gerabah untuk lebih memodifikiasi gerabahnya sesuai perkembangan jaman. Melalui sentuhan kreatif para seniman, gerabah pun menjadi seni kerajinan keramik.  

Mendengar sekilas cerita sejarah gerabah Kasongan, saya lalu dibawa untuk melihat bagaimana proses metamorfosa tanah liat menjadi sebuah gerabah. Di sini saya banyak belajar cara membuat sebuah gerabah.

Proses Pembuatan Gerabah
Desa Kasongan ternyata merupakan desa yang terletak di daerah dataran rendah di mana desa ini menghasilkan tanah yang gamping. Dan dari sawah di desa Kasongan inilah tanah liat diambil kemudian dijemur dan dilakukan pencampuran antara tanah bangunjiwo, godean dan tanah pasir yang ditambah dengan air. Tanah liat yang tercampur diendapkan dengan cara menutupnya dengan selembar plastik. Dari tanah liat yang diendapkan ini, kemudian tanah liat dibentuk di atas tempat yang bisa diputar. Tangan pengrajin berada di sisi dalam sementara yang lainnya berada di sisi luar. Dengan memutar alas tersebut, tanah yang di atasnya akan membentuk silinder dengan besaran diameter dan ketebalan sesuai dengan penekanan dan penarikan tanah yang dilakukan pengrajin. Dan sedikit demi sedikit tanah liat ditambahkan untuk menyambung tanah liat yang sudah terbentuk agar menjadi wujud yang sempurna. Proses yang dilakukan menggunakan tangan ini biasanya untuk perabot yang berbentuk silinder. Ternyata pembuatan satu gerabah tidak langsung selesai dalam sekali perkerjaan. Gerabah yang baru setengah dibentuk dibiarkan kering, baru kemudian disambung kembali. lalu bagian gerabah yang masih tidak rata kemudian dirapikan kembali agar menjadi lebih sempurna. Setelah proses Pembentukan selesai gerabah kemudian dijemur di bawah sinar matahari. Seluruh proses dari mulai pembentukan sampai penjemuran ternyata memakan waktu 2 sampai 4 hari. Gerabah yang sudah dijemur kemudian dibakar di dalam tungku pembakaran yang disebut dengan tungku ladang. Proses pembakaran dilakukan di luar tanpa penutup atas selama 3 sampai 4 jam dengan suhu 600 sampai 800 derajat celcius.
Gerabah yang telah matang barulah memasuki tahap terakhir yaitu merupakan tahap finishing. Ditahap inilah permainan warna dan seni semakin ditonjolkan. Berbagai macam peralatan dan cat warna dibutuhkan untuk menghiasi gerabah yang masih polos. Gerabah yang masih polos dibuat motif oleh pengrajin untuk segera dicat dengan cat tembok atau cat genteng. Motif dan warna yang dibuat pun bervariasi. Seperti yang saya lihat kali ini, Gerabah yang dibuat adalah patung orang dengan pakaian jawa. Sehingga motif yang dibuat pun menyerupai batik Yogyakarta. Kalau saya lihat, lama-kelamaan gerabah yang awalnya berwarna tanah liat, kini disulap sang pengrajin menjadi  patung orang yang sangat cantik dan menarik.

Gerabah yang sudah cantik lantas segera dipamerkan di galeri-galeri yang ada di Kasongan. Seperti salah satu galeri ini yang menjual berbagai macam gerabah. Gerabah ternyata bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk dan bahan finishing contohnya ada gerabah yang dicat dengan cat mobil. Karena begitu banyak variasi pembuatan, harga penjualan gerabah pun menjadi bervariasi. Dari bilangan ribuan sampai jutaan pun dapat menghargai sebuah kerajinan gerabah. Berbagai bentuk pun dapat saya nikmati disini contohnya Perabotan rumah tangga yang klasik seperti kendi, kuali, anglo, cobek, tungku, bakul dan gentong. Selain perabotan rumah tangga, saya mendapati berbagai hiasan yang multifungsi. Begitu banyak dan seakan-seakan semua bentuk bisa dibuat di desa Kasongan ini. Dari gantungan kunci, souvenir pernikahan, vas, pot bunga, patung wayang, patung hewan, hiasan pintu, hiasan meja, meja, kursi sampai tempat air mancur untuk hiasan taman. Dan disetiap bentuk gerabah tersebut, memiliki polesan dan ukiran yang memberikan aksen dan ciri khas tersendiri. Sungguh sangat menganggumkan menurut saya, sebuah aplikasi seni yang merupakan perpaduan unsur alam yang ditambah dengan kreatifitas manusia menghasilkan bentuk seni yang eksotik. Tak salah bila saya menyebut gerabah kasongan ini menjadi salah satu mahakarya Yogyakarta.
Selain keindahan gerabahnya, sisi lain dari desa Kasongan yang sangat orisinil ini dapat saya nikmati dengan mengikuti tur menikmati suasana desa. Yang lebih menyenangkan lagi, di sini disediakan paket wisata untuk para rombongan pengunjung untuk belajar membuat gerabah sendiri. Ini merupakan satu tawaran menarik untuk para wisatawan lokal maupun mancanegara.
Ya..sungguh menyenangkan menikmati kerajinan gerabah kasongan maupun alam pedesaannya. Saya jadi terinspirasi untuk mendekor rumah saya dengan perabotan gerabah ini atau ingin mencoba berkreasi dengan gerabah. Nah, perjalanan saya kali ini ditutup dengan semua imajinasi dan kegaguman akan seni gerabah. Dan untuk semua mahakarya gerabah yang diwujudkan di desa Kasongan ini, saya acungkan jempol untuk komunitas pengrajin Yogyakarta. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar